Pusat Informasi Batik

Klik—>PasarBatikPekalongan.Com

Batik Pernikahan

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


Hari batik yang dirayakan setiap 2 Oktober menjadi salah satu tonggak sejarah penting dalam memperoleh pengakuan terhadap warisan budaya Indonesia. Pencanangan hari batik tidak bisa lepas dari pengakuan resmi dunia melalui United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO).

Dalam pernyataan yang dilansir unesco.org, Batik dinobatkan sebagai warisan budaya milik Indonesia. dan saat inilah saatnya indonesia mengatakan kepada Malaysia “Hai Malaysia, kini akuilah bahwa Batik adalah milik Indonesia”

Batik di Indonesia memiliki karakteristik unik dari warna dan corak yang ditampilkan. Ragam corak yang dibuat bukan saja mengandung makna seni, namun juga melambangkan filosofi yang pemakai. Toko Batik Margaria di Jogjakarta membeberkan filosofi dan mengaitkan dengan tradisi Jawa.

Untuk pengantin di pada upacara pernikahan, penggunaan batik Sido Mukti sangat disarankan. Filosofi Sido berarti terus-menerus, Mukti berarti kecukupan dan penuh kebahagiaan. Diharapkan pengantin yang memakai batik ini kelak akan bahagia dan sejahtera

Sementara untuk orang tua pengantin dalam upacara pernikahan, disarankan menggunakan batik motif truntum.  Truntum berarti menuntun. Diharapkan si pemakai / orang tua mempelai mampu memberikan petunjuk dan contoh kepada putra putrinya untuk memasuki kehidupan baru berumah tangga yang penuh lika-liku.

Uraian lain tentang keharmonisan rumah tangga juga diwujudkan dengan penggunaan motif Sido Mulyo Semen. Sido berarti terus menerus , sedangkan Mulyo berarti kecukupan dan kemakmuran. Diharapkan barang siapa yang memakai batik ini diberikan kecukupan dan kemakmuran.(fir.20)

Incoming search terms:

Batik Solo nan Melegenda

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


BATIK merupakan salah satu identitas bangsa Indonesia. Salah satunya batik Solo yang namanya melegenda di kalangan pencinta karya etnik.

Bagi masyarakat Solo, membatik merupakan bagian dari keseharian yang turut menjadi tulang punggung kehidupan. Batik ada di mana-mana. Setia bersama masa dan meraja melebihi raja. Batik bukan hanya tentang kain dengan berbagai motif di atasnya, karena berbagai filosofi tertanam di dalamnya.

Batik solo memiliki keunikan dibanding daerah-daerah lain yang membuatnya mengandung nilai historis di luar kekuatan estetika yang jelas-jelas tersaji. Berdasarkan beberapa sumber, batik dan teknik pembuatannya memang tidak sepenuhnya ditemukan oleh bangsa Indonesia, namun di sinilah batik solo berkembang dan menemukan tempatnya di dalam perjalanan panjang kebudayaan bangsa.

Batik telah dikenal sejak jaman Kerajaan Majapahit, bahkan teknik membatik sendiri konon diperkenalkan saat kebudayaan India dan China masuk ke Nusantara, karena teknik mewarnai dengan menggunakan malam telah dipergunakan di Negeri Tirai Bambu sejak zaman Dinasti Tang.

Batik berasal dari kata “ambatik”, artinya kain dengan titik-titik kecil. “Tik” sendiri artinya titik dan batik merupakan kain yang diberi motif dengan menitikkan malam di atasnya.

Dahulu, batik hanya dipergunakan oleh kalangan kerajaan, karena teknik pembuatan dan motif yang terkandung di dalamnya. Sebuah catatan sejarah bahkan mengatakan bahwa Sultan Agung sebagai Raja Mataram yang sangat terkenal, mempergunakan batik sebagai pakaian kebesaran.

Pembatikan biasanya dilakukan di atas dua bahan, yakni katun dan sutera. Kedua bahan tersebut memiliki tingkat penyerapan malam terbaik yang akan sangat membantu dalam proses pewarnaan.

Bahan tersebut harus melalui pencucian hingga beberapa kali untuk menghilangkan semua kotoran yang menempel sebelum diproses lebih lanjut. Setelah itu, outline motif diletakkan menggunakan arang atau pensil, sebelum ditimpa dengan malam.

Terdapat tiga teknik pembuatan batik, yakni tubs, cap, dan printing. Namun, hanya teknik tulis dan cap yang dipergunakan pada batik solo. Batik tulis merupakan proses yang lebih rumit dibandingkan batik cap. Pembuat barus memiliki keterampilan dalam menggunakan canting, semacam pena untuk menggambar motif dengan malam atau lilin.

Canting sendiri konon merupakan ciptaan asli suku Jawa. Teknik pewarnaan menggunakan malam boleh berasal dari budaya asing, namun alat mungil ini merupakan hasil karya anak bangsa yang pantas dibanggakan.

Seiring waktu, batik tidak lagi hanya digunakan oleh keluarga dan penghuni kerajaan, namun menjadi milik publik dan dipergunakan oleh segala kalangan. Memenuhi permintaan yang semakin meningkat, teknik pembuatan batik pun mengalami perkembangan, yakni dengan cap yang terbuat dari tembaga.

Berbagai motif dengan mudah diaplikasikan kepada bahan dengan mencapnya. Kuncinya, cap itu harus dibuat dengan sangat teliti dan hati-hati karena antara satu dan lainnya harus benar-benar sama.

Batik yang dibuat menggunakan teknik cap, tulis, atau penggabungan keduanya dengan mudah dapat Anda temukan di berbagai toko busana dan pasar tradisional yang ada di Solo. Harga dapat bervariasi, tergantung teknik pembuatan dan bahan yang dipergunakan. Batik yang dibuat dengan teknik tulis dan memiliki warna beragam memiliki harga lebih mahal karena pertimbangan waktu, usaha, dan nilai estetika di dalamnya.(fir.19)

Incoming search terms:

Mendidik Dengan Membatik

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


JAKARTA - Kegiatan membatik bisa dijadikan sarana mendidik. Wacana ini mencakup proses pengajaran membatik atau latihan apresiasi dengan memahami motif yang ada di dalamnya.

Seperti yang diterapkan di UNY , konsep Pendidikan Batik adalah mendidik ”dengan, melalui, berupa”  batik. Mendidik adalah mendewasakan anak, mengembangkan struktur jiwa hingga beranah cipta, rasa, dan karsa.

Pendidikan Batik tidak hanya sekedar pelajaran praktek berkaya seni tanpa kaidah dan prinsip penciptaan serta simbolisasi wacana teks visual, melainkan pendidikan dengan muatan lokal batik. Wacana ini dikemukakan dalam Seminar Nasional Batik  Revitalisasi Batik Pendidikan yang digelar di UNY baru-baru ini.

“Dengan pemahaman bahwa batik selain sebagai sebuah karya seni dengan prosedur tutup celup,  batik juga bermuatan pendidikan berkehidupan (pendidikan kepribadian),”  demikian diungkapkan Dosen Jurusan Seni Rupa FBS UNY Hajar Pamadhi, MA.

Selain seminar,  digelar juga Pameran Batik yang menampilkan berbagai kreasi dari batik seperti lukisan, sepeda, bola, dan tas. Pada acara ini juga  didemonstrasikan  proses membatik.

Pada sambutannya,  Pembantu Rektor I (PR I), Prof Dr Nurfina Aznam SU,Apt menyampaikan dengan penobatan batik sebagai salah satu warisan budaya dunia hasil karya bangsa Indonesia oleh UNESCO,  maka sebagai anak bangsa kita perlu merevitalisasi batik.

Caranya tidak hanya sekedar mengenal dan memakai batik tapi juga membangun pendidikan karakter melalui batik. Banyak hal sederhana yang dapat diajarkan dari proses membatik. Dengan  membatik seseorang bisa belajar tentang kecermatan,
ketelitian, dan ketekunan.

“Alangkah baiknya jika dapat mendorong anak didik  untuk tidak melihat batik hanya sebagai sebuah mahakarya tapi juga dapat memaknai filosofinya yang terkandung di dalamnya”, tegasnya.(fir.18)

Incoming search terms:

Menakar Ragam & Pesona Batik

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


RAGAM kain tradisional, khususnya batik, merupakan kekayaan Indonesia saat ini semakin diminati. Berbagai motif dan eksplorasi yang ditawarkan memperlihatkan motif dan pola kain tradisional mampu mengikuti tren dan fashion di masyarakat modern Indonesia, bahkan dunia.

Selembar kain batik menyimpan banyak kisah dan sejarah yang tersirat. Daerah-daerah penghasil kain batik memiliki ciri khas masing-masing. Selain itu, karakter tipologi tertentu juga sangat mempengaruhi motif batik. Sebut saja misalnya batik khas Solo, batik Yogyakarta, batik Tegal, Pekalongan dan juga batik Semarang. Batik pesisir misalnya, lebih didominasi warna cerah karena dipengaruhi kehidupan penduduk pesisir yang lebih dinamis.

Lain batik pesisir, lain juga batik Yogyakarta. Batik asli Yogyakarta lebih didominasi motif geometris besar dengan warna putih terang. Sedikit perbedaannya dengan batik Solo hanya pada warna. Warna putih batik Solo tidak seterang batik Yogyakarta. Selain itu, batik Solo dilengkapi dengan warna soga emas yang biasa dipakai di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Kedua jenis batik ini tidak boleh dipakai oleh umum. Hanya lingkungan kraton saja yang boleh memakai batik dengan motif semacam ini.

Di Pekalongan, batik sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat dan menjadi produk unggulan Pekalongan. Karena itulah julukan Kota Batik melekat pada daerah yang juga dikenal sebagai kota Teh ini. Sementara desain batik lebih dinamis dan dipengaruhi berbagai unsur. Misalnya saja motif batik Jlamprang, yang diilhami dari India dan Arab. Kemudian batik Encim dan Klengenan, yang dipengaruhi budaya China. Batik Belanda, Batik Pagi Sore, atau Batik Hokokai, yang ada pada masa pendudukan Jepang.

Lain lagi dengan batik Lasem mempunyai ciri khas multikultural Jawa Tionghoa yang kental. Pesonanya tampak pada warnawarni yang cerah serta motifnya yang khas. Motif khas Tionghoa itu bisa terlihat dalam gambar burung hong, kilin, liong, ikan mas, ayam hutan dan sebagainya.

Ada juga motif bunga seperti seruni, delima, magnolia, peoni atau sakura. Ciri khas motif Tionghoa lainnya bisa dilihat dalam motif geometris seperti swastika, banji, bulan, awan, gunung, mata uang atau gulungan surat. Motif Tionghoa ini berpadu dengan motif Jawa yang umum terdapat dalam batik khas Yogyakarta dan Solo, seperti parang, lereng, kawung, udan liris dan lain-lain. Perlahan tapi pasti saat ini semakin banyak saja penggemar batik merambah Tanah Air. Hal ini didukung oleh banyak faktor salah satunya rancangan busana yang semakin modis dan trendi. Variasi usia pun semakin lebar untuk percaya diri mengenakan kain batik.

Termasuk pemilihan warna batik yang digunakan adalah sangat menarik dan menyolok bukan lagi warna-warna tua seperti cokelat, hitam atau putih. Alhasil, anak muda pun sudah lebih percaya diri mengenakan batik beraneka model.

Desainer dan pemilik Etherea Dana Rahardja mengatakan, batik tidak sebatas tradisional dan hanya digunakan untuk acara resmi. ”Saya mencoba untuk memadukan dan memodernkan batik dengan desain yang lebih modis,” katanya.

Tapi dengan pola yang simpel dengan sentuhan modern itu, memang sengaja dirancang untuk memberi kesempatan para ibu-ibu muda maupun wanita karier yang ingin tampil gaya. ”Memang sasaran saya usia 25 tahun ke atas, wanita-wanita yang sudah mapan,” terangnya.

Pun demikian yang ditempuh oleh Rumah Batik Danar Hadi. Pimpinan Rumah Batik Danar Hadi Semarang Marina Soemarmo SE mengatakan, koleksi terbaru dari Danar Hadi selalu inovatif supaya semakin digemari pencintanya. Seperti baru- baru ini meluncurkan koleksi terbaru ”Jawa Dwipa”, ingin menonjolkan motif klasik dengan pendekatan temporer sederhana. memberikan sebuah cara penampilan dan energi baru untuk pecintanya. Dia mencontohkan, koleksi “Classic Contemporer” merupakan harmonisasi motif batik klasik tapi dengan sentuhan gaya modern masa kini.(fir.17)

Incoming search terms:

Kolaborasi Batik dan Tenun

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


INDONESIA memiliki begitu banyak kain klasik hasil budaya bangsa yang bernilai tinggi. Tenun dan Batik merupakan bagian dari warisan budaya bangsa yang patut dilestarikan. Berangkat dari alasan inilah banyak para desainer tanah air yang kini gencar mempromosikan dua warisan bangsa ini dalam desain yang cantik dan segar. Namun apa jadinya jika batik berkolaborasi dengan tenun?

Inovasi inilah yang baru saja ditelurkan brand batik ternama Alleira. Menghasilkan rancangan istimewa dengan motif tenun di atas kain batik, Alleira siap memanjakan wajah-wajah fashionista Indonesia. Memperkenalkan koleksi terbarunya melalui fashion show yang bertajuk ‘Tenun On Batik’.

“Alleira tidak segan mengambil apa pun di luar batik klasik untuk bisa menjadi inspirasi. Meskipun itu adalah motif yang diragukan untuk bisa dikembangkan dalam batik, seperti antara tenun dan batik ini. Siapa yang bisa membayangkan kolaborasi keduanya, tapi dengan kerja keras, Alleira mampu mengubahnya menjadi motif dengan desain baru yang indah dan menggemaskan,” papar Manajer Produksi Alleira Batik Anita Asmaya .

Dipaparkan Anita lebih rinci, ‘Tenun on Batik’ sejatinya adalah kreasi motif tenun yang dikolaborasikan dengan citra desain dan warna Alleira. Kemudian motif baru tersebut diaplikasikan di atas kain batik.

Seperti diketahui, kain tenun klasik diciptakan dengan teknik menenun yang menghasilkan kain dengan serat yang khas, sehingga terasa kurang nyaman untuk menjadi koleksi busana ready to wear. ‘Tenun On Batik’ merupakan inovasi brilian sebagai jembatan agar orang bisa mencintai batik dan tenun secara bersamaan bila dikenakan.

“Itu adalah idealisme dasar dari Alleira yang melahirkan inspirasi cantik ini. Menjadikan tenun senyaman batik dan pasti lebih elegan,” ungkap Anita.

Hadir dalam 3 sequence, koleksi ‘Tenun On Batik’ tampil dalam desain tenun yang cukup variatif. Kekuatan rancangan ini terletak pada dominasi volume longgar dan perpaduan bahan songket sebagai kombinasi. Secara keseluruhan menghadirkan detail yang unik dan cantik.

“Tenun On Batik juga kaya akan berbagai macam detail buatan seperti aplikasi ring yang nyaman dan belt manik-manik. Itu semua akan mempertajam sisi personality Anda,” promosi Anita.

Tenun of Batik Alleira hadir dalam berbagai koleksi, di antaranya busana ready to wear hingga dress yang lebih simple untuk acara semi formal. Memperhatikan sisi kenyamanan si pemakai, Alleira tetap menggunakan bahan material berupa sifon, sutera dan satin, serta ATBM.

Meski tenun terlihat berat untuk anak-anak, desainer Alleira mampu mengubahnya menjadi terlihat istimewa, sehingga tak hanya menciptakan rancangan untuk orang dewasa, melainkan juga dalam koleksi anak-anak. Tampil dalam kesan ringan dan segar.(fir.16)

Incoming search terms:

Cinta Batik Ala Anak Bangsa

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


BATIK merupakan salah satu kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama. Lantas, bagaimana batik dalam kacamata anak bangsa? Yuk, kita ketahui lebih dalam!

Seiring dengan perkembangannya dan meningkatnya daya kreatif dari para pengrajin batik dalam mencetak motif-motif baru, rupanya keindahan batik kian mencuri banyak perhatian kalangan, hingga masyarakat internasional.

Persoalan mulai muncul manakala batik diklaim oleh negara tetangga, Malaysia sebagai kepunyaannya. Sudah jelas hal ini membuat Pemerintah dan masyarakat Indonesia menjadi geram.

Menjawab polemik tersebut, Indonesia pun tak tinggal diam. Pemerintah Indonesia berupaya keras agar batik segera diakui oleh dunia, yang merupakan warisan budaya Indonesia.

Untuk itu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Surya Dharma memaparkan, pengukuhan batik mengacu pada nilai sejarah budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.

“Batik Indonesia masuk dalam representatif budaya tak benda warisan manusia UNESCO karena melihat pada nilai-nilai historis, filosofis, aspek-aspek religius yang melatarbelakangi pembuatan batik. Penilaian tidak sekadar motif batik Indonesia saja yang memang diakui dunia. Jadi bukan dipatenkan, melainkan pengakuan representatif budaya tak benda warisan manusia UNESCO,” ujarnya saat ditemui di Gedung Departemen Kominfo, beberapa waktu lalu.

Upaya pemerintah untuk melestarikan batik semakin kuat dengan lebih bersahabatnya pemerintah memikirkan pengrajin batik, dan membantu mempromosikan sentra-sentra batik.

“Pemerintah akan mengembangkan pengakuan, membantu untuk memperkuat promosi. Dari sentra-sentra batik kita perkenalkan sehingga di setiap daerah memacu memunculkan keunikan-keunikan dalam kreasi batik. Selain itu, pemerintah akan membantu supaya batik mudah mendapat lisensi atau hak paten,” ungkap Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata Mohammad Nuh, di tempat yang sama.

Kendati telah dikukuhkan dunia, namun selama ini batik terkesan hanya untuk kalangan orangtua saja, sehingga membuat generasi muda enggan mengenakan batik. Tak heran bila batik mulai dilupakan generasi muda yang memilih busana yang up to date.

Bahkan, di balik keindahan batik, ternyata banyak masyarakat Indonesia yang tak mengetahui bahwa sampai saat ini terdapat 2.500-an motif batik Nusantara yang baru terdaftar. Padahal, di luar sana tentu masih banyak pola dan ragam batik tradisional dan modern lainnya yang belum terdaftar.

Agar keberadaan batik tak punah, maka sederet desainer pun ikut menciptakan berbagai desain istimewa agar batik tak hanya terkesan diciptakan hanya untuk kalangan tertentu saja. Sebut saja desainer yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Perancang Muda Indonesia (APPMI), Lenny Agustin.

Dengan imajinasinya yang tinggi, desainer bertubuh mungil yang sangat energik ini berhasil mengemas batik dengan tampilan lebih muda dan segar. Berangkat dari cita-cita Lenny yang ingin menciptakan generasi muda yang cinta batik serta memopulerkan kain-kain Indonesia.

“Saya bercita-cita batik dan kain bisa dipakai anak muda. Biar material tersebut lebih disukai, dan tradisi kita pakai kain enggak kendur,” ungkap Lenny saat ditemui di media central Jakarta Fashion Week, Pasific Place, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Untuk mendukung hasil kreasinya lebih sempurna, pemilik label “Lennor” dan “WAW” itu bekerja sama dengan pemilik Batik Semar Ananda Soewono.

Upaya Lenny membuat anak bangsa untuk mencintai batik semakin terbantu dengan dijadikannya batik Indonesia sebagai identitas bangsa, dan dikenakan masyarakat Internasional. Yaitu melalui kewajiban anak bangsa memopulerkan batik serta kain tradisional Indonesia.

Salah satu wujud cinta batik tersebut telah dilakoni supir taksi dengan mengenakan seragam batik. Seperti yang dilakukan para supir taksi Express Group yang mendukung penuh Hari Batik Nasional sebagai warisan budaya dunia.(fir.15)

Incoming search terms:

Batik Kontemporer Bergaya Abstrak

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


KITA mengenal batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Cirebon, dan Garut. Bagaimana dengan batik Bandung? Dibanding para sepupunya yang bergaya klasik, batik Bandung justru tampil kontemporer dengan gaya abstrak yang dicipta lewat puisi.

Pencipta Batik Bandung tersebut adalah Tetet Cahyati Popo Iskandar, putri dari mendiang seniman dan maestro lukis kenamaan RH Popo Iskandar. Darah seni sang ayah rupanya mengalir kental di nadi Tetet Cahyati. Tidak hanya berkutat di seni lukis, justru pencetus batik abstrak kontemporer ini merupakan seniman multimedia yang secara bertahap mencipta batik dari larik puisi yang kemudian diterjemahkan ke dalam lukisan, lalu dicetak menjadi motif batik di atas sutra. Jenis batik baru yang kemudian dikenal sebagai batik Bandung khas kota kembang.

Aom Kusman, presenter yang dulu terkenal dengan kuis ”Siapa Dia”, juga mengapresiasi batik Bandung besutan Tetet Popo Iskandar. ”Ini adalah langkah yang bagus dengan inovasi dari Ibu Tetet, batik akan menjadi lebih disukai anak muda. Mereka yang tidak menyukai batik klasik bisa memilih batik abstrak kontemporer ini,” komentarnya, yang mengharapkan batik Bandung bisa berkembang layaknya batik Garut dan Cirebon.

Tidak jauh berbeda, istri Wali Kota Bandung, Nani Dada Rosada, pun punya pendapat serupa. ”Saya berharap dengan lebih banyak acara seperti ini, batik Bandung bisa lebih banyak dikenal masyarakat, terutama dengan adanya sentra batik Bandung di Cigadung walaupun kini masih dalam proses pembangunan,” sebutnya. ”Dengan begitu, saya harap Bandung tidak hanya akan terkenal sebagai kota wisata belanja atau wisata kuliner, tapi juga kota batik,” sambungnya.

Batik kreasi Tetet memang berbeda dengan batik yang biasa ditemui. Tidak ada motif bunga, burung, atau ragam hias klasik seperti parang dan kawung yang sarat makna, melainkan berupa gambar abstrak dengan sapuan garis geometris berwarna cerah. Batik abstrak kontemporer karya Tetet tampil ekspresif, bebas, bahkan polos, yang menjadi bentuk murni ungkapan jiwanya.

”Inspirasinya dari puisi saya sendiri yang kemudian menjadi lukisan dan saya tuangkan ke dalam lukisan batik di atas sutra,” kata wanita yang memiliki gelar doktor di bidang ekonomi ini.

Melihat koleksi batik yang dihadirkan wanita yang akrab disapa Ceu Tetet ini, rasanya seperti melihat goresan polos anak-anak, jujur dan ceria. Namun, satu hal yang terlihat jelas, kekuatan batik abstrak kontemporer milik Tetet Popo Iskandar ini terletak pada warna dan coraknya yang menampilkan ciri khasnya. Karena itu ketika melihatnya, karya itu akan langsung dapat dikenali. Maka dari itu, tidak salah jika Tetet menerima penghargaan dari Museum Rekor Indonesia sebagai Seniwati Multimedia terhadap Satu Tema.

Batik abstrak kontemporer besutan Tetet memang unik. Bagaimana tidak, kendati baru menggeluti seni batik abstrak kontemporer ini sejak 2007 lalu, batik kreasi Tetet belum ada yang menyamai.
Batik abstrak di atas kain sutra halus itu merupakan gebrakan seni lukis dan batik di Indonesia. Bahkan, ia sudah menggelar tiga kali fashion show batik karyanya yakni di Jakarta, Hong Kong, dan terakhir di Bandung. Bisa dikatakan, batik karya Tetet adalah jenis seni batik baru yang membuktikan bahwa batik pun bisa mengikuti perubahan zaman.

Mungkin terlihat tidak relevan, menyatukan puisi, lukisan, dan batik sekaligus. Namun, bagi Tetet, ketiganya tidak bisa dipisahkan.
Batik abstrak Tetet tercipta melalui beberapa dimensi media dan serangkaian aktivitas yang bertautan. Inspirasi awalnya tercurah lewat puisi, kemudian tertuang dalam kolaborasi warna lukisan dan terakhir dibuat dalam sebuah batik abstrak. Seperti puisi ”Cahaya Jiwa” yang kemudian dituangkan ke dalam lukisan dengan judul sama, selanjutnya lukisan itu menjadi motif ”cetak” bagi batik abstrak di atas kain sutra halus.

Saat ditanya mengenai ciri khas batik abstrak kontemporer buatannya, Tetet mengatakan bahwa koleksinya kebanyakan berwarna cerah dengan motif geometris yang merupakan replika lukisannya. ”Untuk motifnya memang lepas dari pakem batik tradisional dan lebih abstrak, tapi teknik membatiknya tetap sama,” sebutnya.

Batik karya Tetet memang lepas dari pakem batik klasik. Namun, saat dituangkan menjadi bentuk busana, koleksinya justru tampil sederhana, nyaris tanpa embellishment. Di hadapan Wali Kota Bandung Dada Rosada beserta istri dan segenap jajaran pegawai Pemerintah Kota Bandung, Tetet menghadirkan koleksi busana bergaris simpel. Tunik panjang berpadu legging, gaun sebatas lutut, ataupun terusan yang dihiasi detail obi. Kendatipun terbilang simpel, koleksi Tetet cukup menarik perhatian karena motif dan warna batiknya yang begitu menonjol.

Cutting-nya memang sengaja dibuat sederhana karena saya ingin menonjolkan motif batiknya,” cetus Tetet, yang mengatakan dalam waktu dekat, dirinya bersama-sama dengan Kementerian Pariwisata berencana untuk berangkat ke Yunani dan Republik Ceko guna memamerkan koleksi kain batik abstrak kontemporer miliknya. ”Saya saat ini tengah menyiapkan sekitar 50 koleksi untuk dibawa ke Yunani dan Ceko pada bulan Juni,” ucapnya. (fir.14)

Bukan hanya menyiapkan koleksi batik baru untuk diperkenalkan di panggung internasional, Tetet juga mengembangkan lini batiknya dengan menghadirkan lini koleksi tas dan sepatu bermaterialkan batik abstrak kontemporer. ”Kalau untuk sepatu dan tas, desainnya dibuat oleh putri saya, Ilma Puspanusa,” katanya.(fir.14)

Incoming search terms:

Software Batik Dukung Inovasi Desain

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


BAGI Anda yang ingin belajar mendesain batik, kini sudah tersedia peranti lunak (software) yang akan memudahkan aplikasi ide kreatif. Mendesain batik pun akan lebih mudah bahkan lebih inovatif.

Software batik ini diciptakan oleh komunitas Pixel People Project yang didirikan sejumlah lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Pixel People Project tergabung dalam Bandung Creative City Forum (BCCF).

Project Manager Batik Fractal Software Nancy Margried mengungkapkan, dengan menggunakan software batik layaknya photoshop atau corel draw, maka setiap orang bisa mendesain berbagai corak. Dengan dukungan peranti lunak ini, proses pengerjaan mendesain motif batik bisa cepat selesai.

“Teknologi ini akan membuat para desainer batik bisa mengeksplorasi berbagai motif yang ada,” kata Nancy saat launching Batik Fractal Software (J Batik V 2.0) di pelataran Blitz Megaplex Paris Van Java, Bandung, kemarin.

Nancy menjelaskan, software tersebut memang ditujukan bagi para desainer batik di Indonesia. Nantinya berbagai corak batik akan membentuk rumus matematika. Rumus itu akan dikembangkan lebih detail sehingga kelebihan utama dari penggunaan peranti lunak ini adalah dari satu desain utama, bisa menjadi desain-desain baru yang unik.

Dia mengatakan hampir semua pakem batik sudah dimasukkan dalam software ini. Contohnya sudah dimasukkan motif batik dari Pekalongan, Garut, Yogyakarta, dan Solo. Menurut Nancy, adanya software ini menjadi tantangan para desainer batik untuk menciptakan motif yang unik dan inovatif.

Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman yang hadir di Bandung mengakui software batik merupakan karya fenomenal. Makanya, dia hadir untuk ikut meresmikan karya anak bangsa tersebut. Menristek menyatakan, dari segi keilmuan, software batik merupakan karya lintas batas yang memadukan seni dan matematika.

Menurutnya, dengan teknologi yang sudah ada, diharapkan bisa meningkatkan nilai ekonomi dan sosial batik itu sendiri. Hal itu bisa jadi momentum melakukan ekspansi pasar batik hingga tak terbatas ke negara manapun. Selain itu, dari segi sosial, semakin mengukuhkan batik sebagai karya asli Indonesia, bukan milik negara lain.

“Jadi yang namanya klaim batik oleh negara lain tidak akan terjadi lagi. Batik dan inovasinya adalah milik kita,” paparnya.(fir.13)

Incoming search terms:

Kekayaan Batik Nusantara

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


SALAH satu kekayaan Nusantara yang paling terkenal adalah batik. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki kerajinan batik. Bukan hanya di Jawa, batik juga ditemukan di Papua dengan corak yang berbeda.

Ragam kekayaan warisan nenek moyang Indonesia ini dapat ditemukan dalam Gelar Batik Nusantara yang dilangsungkan di Jakarta Convention Center (JCC), pada 26-30 Agustus 2009. Pameran tersebut memajang kekayaan dan keanekaragaman corak batik dari berbagai daerah di Tanah Air.

Setiap daerah tentunya memiliki ciri khas masing-masing. Yogyakarta, misalnya. Selain kaya dengan jenis corak, batik yang diikutsertakan dalam Gelar Batik Nusantara kali ini adalah batik istimewa yang dibuat oleh putra dan putri karajaan dari Kadipaten Pakualaman Ngayogyakarta.

Bahkan, batik tertua yang dipajang dalam pameran ini dibuat satu abad silam. Batik yang dinamakan dengan Batik Puro Pakualaman ini hanya dikenakan oleh seorang putri raja ketika hendak menghadap sang raja.

Proses perenungan yang panjang dan ritual penyucian diri yang dilakukan sebelum memulai pembuatan batik itulah, yang kemudian membuat batik pada zaman dulu begitu sejuk dipandang mata dan memiliki nilai seni yang sangat tinggi.

Yang tidak kalah menarik minat masyarakat dari ratusan stan pameran itu adalah sebuah stan batik yang memajang sekaligus menjual batik-batik dari daerah Papua. Harga yang ditawarkan juga sangat beragam. Misalnya, untuk sebuah selendang batik yang terbuat dari sutra bisa dijual dengan harga Rp250 ribu hingga Rp500 ribu.(fir.12)

Incoming search terms:

Mendekatkan Batik Dengan Generasi Muda

Posted by admin2 on February 29, 2012 in Artikel with No Comments


GENERASI muda menjadi sasaran strategis dalam mengglobalkan batik di kancah internasional. Tak heran, penyelenggaraan World Batik Summit yang dihelat pada 28 September-2 Oktober 2011 membidik anak muda sebagai target utamanya.

Untuk memuluskan impian batik menjadi populer di dunia, mengajak serta seluruh masyarakat untuk mencintai batik adalah langkah utama.

Selain orang dewasa, menggandeng generasi penerus seperti anak muda menjadi sebuah langkah tepat. Itu disadari betul oleh Yayasan Batik Indonesia yang menghelat acara World Batik Summit.

Karenanya, sejak awal penggagasan acara, keikutsertaan anak muda pun sangat diharapkan salah satunya dengan diadakannya Lomba Desain Motif Batik Nusantara yang menyedot 342 peserta dan tersaring menjadi 10 finalis. Selain lomba motif batik, pengadaan Putera Puteri Batik pun dihelat.

“Kami mengharapkan anak-anak muda bisa menjadi bagian dari acara ini. Karenanya, kami bekerjasama dengan Kemendiknas agar bisa menghadirkan mahasiswa dalam acara tersebut,” kata Widodo AS penasehat panitia dan Wakil Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia di World Batik Summit di Ruang Cempaka Kementrian Perindustrian dan Perdagangan.

Selain kedua event tersebut, World Batik Summit juga mengadakan kunjungan ke beberapa tempat batik dimana salah satunya batik Parang Kencana yang ada di Kemang.

“Dari tampilan sampai dengan pelaksanaan kami melibatkan anak-anak muda. Kami pun menghadirkan show batik yang dikhususkan untuk anak muda serta kegiatan belajar membatik dimana menawarkan warna-warna yang digemari anak-anak muda. Intinya, tujuan dari kegiatan ini adalah mendekatkan batik dengan generasi muda karenanya kami mengawali dengan anak muda dan mereka pula yang membawakannya,” papar Mariana Sutandi dari Parang Kencana di kesempatan yang sama.

Senada dengan Mariana, Andara Rainy Ayudini selaku sekretaris dari Putera Puteri Batik Nusantara mengungkapkan bahwa penyelenggaraan ajang yang dihelatnya tersebut menjadi sebuah wadah untuk menyosialisasikan batik lewat generasi muda.(fir.11)

Incoming search terms: